Realitas Sistem Kufur Harus Diubah

 

 

 

Umat Islam saat ini hidup di dalam naungan darul kufur (bersistem kufur: sekularisme, kapitalisme, demokrasi, liberalisme, hukum positif, dll), yang karenanya mesti diubah agar menjadi darul Islam. Sebuah keharusan adanya jamaah/partai ideologi Islam yang berjuang untuk merealisasikan tujuan melanjutkan kehidupan Islam dengan cara mengikuti langkah-langkah perjuangan Rasulullah Saw.

 

 buku Propaganda Ideologi Islam

unduh buku Propaganda Ideologi Islam

 

Sesungguhnya Allah telah menetapkan beberapa kewajiban yang harus diusahakan untuk dilaksanakan oleh umat Islam. Di antara kewajiban tersebut, ada yang harus dilaksanakan secara individual (fardhu ‘ain), yang tidak dapat digugurkan sampai berhasil dilaksanakan; dan ada pula merupakan kewajiban kolektif (fardhu kifayah), yang harus dilaksanakan secara bersama-sama oleh suatu jamaah di tengah-tengah umat Islam. Di antara sejumlah fardhu kifayah itu adalah kewajiban mendirikan Daulah Khilafah Islamiyah.

 

Menegakkan syariat Allah secara total merupakan kewajiban, sementara seorang individu Muslim tidak akan mampu melaksanakannya tanpa bantuan Muslim lainnya. Namun demikian, setiap Muslim wajib menyatukan usaha serta mengumpulkan kemauan dan segenap kesungguhan untuk menegakkannya. Perkara ini termasuk ke dalam bab Mâ lâ yatim al-wâjib illâ bihî fahuwa wâjib (selama suatu kewajiban tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan adanya suatu perkara, maka perkara tersebut hukumnya wajib).

 

Kewajiban ini merupakan salah satu fardhu kifayah yang harus ditegakkan. Jika tidak ditegakkan, maka siapapun yang tidak melibatkan diri (berdiam diri) di dalamnya akan berdosa besar. Watak pelaksanaannya membutuhkan adanya jamaah/komunitas/partai dari kalangan umat Islam (jamâ‘ah min al-muslimîn). Umat berusaha untuk menegakkan kewajiban ini. Siapa saja yang berdiam diri dipandang berdosa dan dosa itu tetap ada pada siapa saja yang tidak berusaha.

 

Partai yang ada di tengah-tengah umat Islam ini berupaya menegakkan kewajiban tersebut. Partai ideologi Islam juga harus mengevaluasi sekaligus mengkritisi benar-salahnya berbagai pemikiran dan hukum yang diadopsi serta yang dibutuhkannya ketika beraktivitas untuk merealisasikan tujuan yang ingin dicapai.

 

Partai yang ada di tengah-tengah umat Islam ini berupaya menegakkan kewajiban tersebut. Partai ideologi Islam juga harus mengevaluasi sekaligus mengkritisi benar-salahnya berbagai pemikiran dan hukum yang diadopsi serta yang dibutuhkannya ketika beraktivitas untuk merealisasikan tujuan yang ingin dicapai.

 

Partai yang dimaksud tentu bukan merupakan umat Islam secara keseluruhan sebagai jamaah (jamâ‘ah al-muslimîn). Partai ini juga tentu bukan Khalifah atau sejajar kedudukannya dengan Khalifah. Hukum-hukum di seputar ke-Khalifahan tidak berlaku bagi partai. Partai tidak boleh mengerjakan satu aktivitas apapun yang menjadi tugas seorang Khalifah, yang pelaksanaannya memang hanya disandarkan kepada dirinya, bukan kepada yang lain. Partai ideologi Islam, dalam hal ini, hanya merupakan salah satu jamaah yang merupakan bagian dari umat Islam (jamâ‘ah min al-muslimîn) saja. Sebaliknya, umat Islam dengan seluruh komunitas yang ada di dalamnya merupakan jamaah umat Islam (jamâ‘ah al-muslimîn). Jama‘ah al-muslimîn meliputi semua jamaah dan semua individu Muslim yang ada.

 

Yang dimaksud dengan jamâ‘ah al-muslimîn adalah umat Islam yang disatukan dan dipersaudarakan oleh akidah Islam. Jadi, umat Islam mungkin saja berbeda pendapat dalam berbagai perkara dzanni (tidak pasti), tetapi perbedaan itu tidak akan menafikan persaudaraan mereka. Siapa saja —baik individu maupun jamaah dari kalangan umat Islam— yang keluar dari akidah mereka, maka dia dianggap telah keluar dari jamâ‘ah al-muslimîn dan dia akan terlempar ke dalam Neraka. Pengertian seperti inilah yang dimaksud oleh Hadis Nabi Saw. yang berbunyi:

“Orang yang meninggalkan agamanya adalah orang yang berpisah dari jamaah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Maksudnya, seorang Muslim yang meninggalkan agamanya tidak lagi termasuk jamâ‘ah al-muslimîn.

Umat dilarang menyimpang dalam hal-hal yang qath’i (pasti) di dalam Islam.

“Umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan; semuanya ada di Neraka, kecuali satu.” Mereka bertanya, “Golongan manakah itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Golongan yang mengikutiku dan para sahabatku.Golongan yang mengikutiku dan para sahabatku.” (HR. Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibn Majah, dan Ahmad ibn Hanbal)

 

Sebagai jamaah, umat Islam adalah umat yang satu; tidak seperti umat-umat lainnya. Umat Islam sekufu (setara) dalam darah dan harta mereka. Orang yang dianggap paling rendah di antara mereka sama dengan orang yang dianggap paling tinggi di tengah-tengah mereka. Mereka itu merupakan satu tangan, meskipun hasil ijtihad mereka berbeda-beda (dalam hal-hal yang dzanni/ tidak pasti).

 

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu dan Akulah Tuhan kalian semua. Oleh karena itu, hendaklah kalian menyembah-Ku.” (TQS. al-Anbiya’ [21]: 92)

 

Nash-nash di atas menunjuk pada umat Islam dengan seluruh komponen yang ada di dalamnya bukan menunjuk hanya pada salah satu jamaah Islam (jamâ‘ah min al-muslimîn). Jika suatu jamaah mengklaim dirinya sebagai jamâ‘ah al-muslimîn, maka klaim tersebut merupakan kesalahan besar dan merupakan pemahaman yang aneh. Klaim tersebut tidak jarang mengakibatkan hal-hal yang berbahaya seperti: menganggap orang yang tidak bergabung dengan mereka sebagai orang yang tidak ikut serta dalam ukhuwah bersama mereka; sebagai orang yang meninggalkan agamanya dan keluar dari jamaah; atau sebagai orang yang akan terjerumus ke dalam Neraka.

 

Dibolehkan adanya multipartai atau banyaknya jamaah yang berusaha untuk menegakkan Islam. Dalil-dalil yang membolehkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah yang dzanni (tidak pasti, tidak tegas) sangat banyak sekali. Perbedaan pendapat dalam masalah ini terjadi juga di kalangan para sahabat; demikian juga di kalangan para tâbi‘în dan para ulama salaf.

 

Sebaliknya, yang terlarang adalah berbeda pendapat sebagaimana halnya yang terjadi di kalangan orang-orang kafir. Mereka, misalnya, berbeda pendapat mengenai nabi-nabi mereka dan berbeda sikap terhadap isi kitab-kitab mereka. Mereka terpecah menjadi banyak aliran. Akibatnya, mereka tersesat dari kebenaran yang telah diturunkan Allah kepada para Nabi mereka sehingga tersesat pula para pengikut mereka.

Allah Swt. berfirman:

“Kemudian berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka sehingga kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” (TQS. Maryam [19]: 37)

 

Maksudnya, Allah Swt. memperingatkan kita terhadap perbedaan seperti yang mereka tunjukkan.

 

Rasulullah Saw. sendiri, pada waktu Perang Khandaq, telah membiarkan adanya perbedaan pemahaman para sahabat terhadap perkataan beliau, yakni ketika beliau bersabda mereka:

“Siapa saja yang mendengar dan taat, hendaknya dia tidak menunaikan shalat kecuali di Bani Quraidzah.” (Sirah Ibn Hisyam)

 

Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Apabila seorang hakim berijtihad dan dia benar dalam ijtihadnya maka dia mendapatkan dua pahala. Sebaliknya, apabila dia berijtihad dan ternyata ijtihadnya salah maka dia mendapatkan satu pahala.” (HR. al-Bukhari)

 

Seorang mujtahid, ketika berijtihad, bisa salah bisa benar. Ini tidak berarti bahwa kedudukannya sebagai seorang mujtahid menjadikan dia tidak pernah melakukan kesalahan.

Hukum yang digali oleh seorang mujtahid dianggap sebagai hukum syariat.

Seorang mujtahid yang salah dalam ijtihadnya tidak mengetahui bahwa dia salah. Sebab, seandainya dia mengetahui kesalahannya, dia jelas tidak boleh tetap berada dalam kesalahannya itu. Akan tetapi, dia mesti membandingkan pemahamannya dengan pemahaman orang lain.

Seorang mujtahid mendapatkan pahala di sisi Allah apakah ijtihadnya benar atau salah. Akan tetapi, pahala keduanya berbeda.

 

Ada kesepakatan di kalangan para ulama bahwa dosa terlepas dari para mujtahid yang berijtihad dalam hukum-hukum syariat yang zhannî berkaitan dengan fikih.

 

Dalam tafsirnya, Imam al-Qurthubi bertutur, “Para sahabat berbeda pendapat dalam menghukumi peristiwa-peristiwa yang terjadi. Akan tetapi, meskipun demikian, mereka tetap bersatu.”

 

Suatu jamaah atau partai berdiri di atas pemahaman terhadap syariat tertentu yang kadang-kadang mungkin berbeda-beda, sebagaimana terhadap syariat yang lainnya; kecuali apabila hukum-hukum syariat itu bersifat qath‘î (tegas).

 

Beraktivitas atau berjuang bersama-sama jamaah/partai yang lebih dekat dengan kebenaran menjadi wajib hukumnya. Demikianlah sebagaimana Allah Swt. berfirman:

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan, menyuruh kemakrufan, dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali ‘Imran [3]: 104)

 

Perintah Allah Swt. di dalam ayat ini menunjukkan pada kewajiban untuk mendirikan minimal satu jamaah/partai di tengah-tengah kaum Muslim yang aktivitasnya adalah mendakwahkan al-khair (Islam) dan amar makruf nahi mungkar.

 

Sesungguhnya kita wajib memahami dengan baik bahwa apa saja yang diakui atau disetujui oleh syariat merupakan rahmat.

 

Imam Malik berkata kepada Khalifah Harun ar-Rasyid ketika Khalifah ingin mengadopsi dan melegislasi pemahaman dan mazhab Imam Malik, sekaligus memaksa masyarakat untuk mempraktikkannya dan melarang penerapan pemahaman lainnya. Saat itu Imam Malik berkata, “Janganlah Anda mempersempit kaum Muslim dalam hal apa saja yang telah Allah mudahkan untuk mereka.”

 

Wajib diperhatikan di sini bahwa negara-negara sistem kufur —dalam menghadapi munculnya satu atau beberapa jamaah/partai di muka bumi ini secara nyata yang berusaha keras untuk menegakkan hukum-hukum Allah— selain mempergunakan cara-cara kekerasan dan membuat berita-berita bohong tentang jamaah-jamaah/partai-partai itu, merekapun sengaja menjatuhkan dan menggagalkan jamaah-jamaah/partai-partai ini dengan jalan mendirikan jamaah-jamaah/partai-partai lain yang tunduk kepada mereka.

 

Allah tidak akan menolong kaum Muslim kecuali apabila mereka terikat dengan syariat, berpegang teguh dengan tali Allah, serta melaksanakan semua perintah-Nya. Sesungguhnya Allah akan menolong mereka meskipun mereka hanya sedikit. Satu dalam kebenaran itu banyak, sementara banyak dalam kebatilan adalah seperti buih.