DAKWAH SEKOLAH

By : Nur Yadi

Remaja Alay dan Cermin Retak Pendidikan

 

Sobat SWI, pernah dengar kata “cemungut ea..”, “iya keles…”, “sumpeh loe, miapah…” de el el? Tentu sebagai remaja yang nggak ketinggalan informasi pasti pernah dengar kata-kata kayak gitu kan? Yes, kalo sobat semua pada ngeh, itu salah satu ciri dari bahasa alay. Apa itu alay, silahkan dicari definisinya atau kalo sobat agak rajin, bisa bongkar-bongkar lagi lembaran buletin kesayanganmu ini yang pernah ngebahas masalah alay. Dapet ga? Hehe..

Btw, terkait alay, ini beberapa waktu yang lalu ada berita tentang seorang anak puteri, yang nggak usah kita sebut namanya ya, nanti dia malah jadi lebih terkenal lagi daripada buletin SWI yang kece ini, wkwkwk. Iya, sebut saja inisialnya AW, diberitakan mendadak remaja alay ini terkenal di jagad maya, karena tingkahnya yang bisa terbilang kontroversial. Lha, gimana enggak, si dia yang dulunya diberitakan juara UN pas waktu SMP, berkerudung santun, tapi mendadak berubah 180 derajat jadi remaja alay binti urakan.

Apa ke-alay-an yang dia bikin? Ya, mungkin dia nggak banyak ngucapin kata-kata alay, tapi tingkatan alay sudah bermetamorfosis pada tingkah polah teman-teman remaja. Jadi, si dia ini, begitu udah jadi ABG berubah dari anak polos menjadi remaja gaul abis. Di video-videonya dia ini tak sungkan mengucapkan kata kotor, dalam bahasa slang, kemudian juga nenggak miras dan ngerokok. Wis pokoke benar-benar gambaran remaja alay yang selama ini ada di dunia maya, ada di dia, bahkan lebih parah.

Sudahlah cukup sampe disitu aja menggambarkan dia, nanti jangan-jangan malah bikin sobat SWI penasaran lagi. Karena sebenarnya remaja yang kayak gitu perilakunya sebenarnya nggak sedikit, bahkan mungkin ada disekitar kita, atau bahkan jadi teman kita di sekolah. Tapi teman-teman kita kalah ngetren aja. Jadi bukan bermaksud ngejad si AW sebagai yang tersesat atau yang paling sesat, karena siapa tahu Allah ngasih hidayahnya trus dia memilih untuk berubah jadi remaja yang alim binti sopan. Nggak ada yang tahu kan? Makanya, tulisan kita kali ini fokusnya pada remaja alay pada umumnya yang terwakili oleh fenomena si AW tadi. Ok klir ya?

 

Remaja Alay dan Teknologi

Sobat tahu ga, pernah ada sebuah buku yang cukup fenomenal yang ditulis tahun 1982, judulnya ‘Mega Trends”, sepuluh tahun kemudian ditulis buku baru yang judulnya “Mega Trends 2000”. Buku itu ditulis oleh John Naisbit, Patricia Aburdene bersama timnya. Lalu apa kaitannya dengan tahun 2000? Apa juga hubungannya dengan pembahasan kita tentang remaja alay?

Jadi gini, buku “Mega Trends 2000” ditulis tahun 1982 tapi di buku tersebut tercantum apa yang bakalan jadi trend di tahun 2000, atau apa yang disebut abad milinium kedua. Salah satu yang disebut dalam buku itu adalah beralihnya masyarakat industri menjadi masyarakat teknologi informasi. Sepertinya apa yang ditulis oleh para futuris tersebut tentang masa depan telah dan tengah terjadi sekarang. Meskipun kita sekarang berada di tahun 2016, tapi fenomena millennium itu masih berlangsung sampe sekarang. Teknologi informasi telah mengubah masyarakat yang ndeso sekalipun jadi bisa terkenal. Dulu pernah ada Sinta-Jojo yang terkenal dengan video lipsingnya keong racun. Juga ada Briptu Norman, polisi yang mendadak tenar karena goyangan khas caahya-cahya. Begitulah, teknologi mempercepat sampenya informasi dari satu tempat yang kita belum pernah menjangkaunya, menjadi seakan-akan dekat dengan kita.

Tentu kita nggak bisa salahin teknologi dong, karena sebagai hasil kreasi manusia maka sah-sah saja kita pakai. Sehingga hasil dari teknologi akan sangat tergantung si pemakainya. Makanya teknologi sering diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Kalo teknologi itu jatuh di tangan orang yang bener, ya pasti digunakan untuk hal yang bener, tapi kalo jatuh di tangan anak yang alay, maka alay-lah jadinya. Dan itu yang terjadi pada remaja kita sekarang ini. Sehingga sekali lagi, tentu bukan salah teknologi informasi, tapi si pemakainya.

Contoh riilnya gini aja deh. Di gadget atau smartphone kita ada banyak aplikasi baik berupa aplikasi obrolan sampe hiburan. Ambil contoh aja youtube, sekarang lagi ngetrend yang namanya video log alias VLOG. Kita bisa merekam aktivitas sehari-hari dengan kamera seadaanya lalu di uplod di akun youtube kita. Iya kalo aktivitas kita yang positif, misalnya ikut kajian, mau belajar baca qur’an, dan sejenisnya maka para pemirsa kita akan terkena dampak positifnya. Sebaliknya, kalo yang direkam aktivitas yang nggak jelas atau bahkan menjurus pada pelanggaran syariat, kayak yang dilakuin AW yang merekam aktivitas pacaran sampe minum minuman keras, trus ditambah ngucapin kata-kata jorok, udah pasti pemirsanya juga akan kena dampak, atau bahkan ngikutin gaya si dia.

Nah, masih seputar teknologi informasi. Ada yang kadang terlupa dibahas disini bahwa teknologi itu tidak berdiri sendiri. Ada informasi yang tidak bebas muatan ideologi, makanya menjadi penting dibahas tentang siapa ‘penguasa’ teknologi informasi dan dipergunakan untuk apa oleh si ‘penguasa’ itu, yang akhirnya dengan ‘senjata’ teknologi itu bisa menguasai atau mengendalikan dunia.

Well, kalo berbicara ‘penguasa’ itu kita sepertinya sudah sama-sama tahu bahwa penguasa yang sedang menguasai dunia itu adalah ideologi kapitalis sekularis. Dengan ide dasarnya sekularisme yang telah sengaja menyingkirkan Islam untuk mengatur kehidupan kita sehari-hari. Islam dicukupkan untuk ditaruh di pojok-pojok masjid, di tempat pengajian, tapi begitu keluar masjid, bubar pengajian masing-masing dengan aturannya sendiri-sendiri. Ironisnya, umat muslim merasa enjoy, rasanya kayak nggak ada yang salah, sudah fine-fine aja bergelut dengan sekularisme itu. Coba aja liat teman-teman kita, di sekolah pas waktu di masjid mereka sholat kan, tapi begitu keluar masjid mereka pacaran, yang lebih parah mungkin sampe berzina, naudzubillah min dzalik. Ada yang sudah berkerudung, tapi nggak bisa menjaga cara gaulnya dengan lawan jenis, masih suka boncengan berdua dengan cowok, suka ngakak dan ajojing bareng di Mall, tempat karaoke, dll.

Itu artinya, memang masyarakat sudah terwarnai secara sempurna dengan sekularisme. Jadi kayak udah biasa aja bertingkah laku sekular, padahal Allah SWT sudah mengingatkan akan hal kayak gitu. Simak peringatan Allah berikut:

“Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. [QS, Al-Baqarah :85].

Jadi, jauh sebelum merebaknya perilaku sekular seperti sekarang ini, 14 abad yang lalu melalui lisan Rasulullah Saw sudah diigingatkan bakal ada orang yang berperilaku main comot sesukanya apa yang menurutnya nggak berat dan ribet dari Islam.Trus kemudian menyembunyikan atau abai terhadap hal-hal yang sebenarnya menurut Islam dilarang. Kayak pacaran, makan riba, minuman keras, tawuran, narkoba, dll.

One again, teknologi informasi tidak berdiri sendiri, ada yang dikendalikan oleh ideologi, dan kalo ada pertanyaan ‘darimana muncul dan merebaknya remaja alay?’, maka sekularisme tadi kita bisa tunjuk hidungnya. Noh!!!

 

Kemana pendidikan kita selama ini?

Kalo bicara remaja tentu nggak bisa dilepaskaitkan di mana dia mengenyam pendidikan. Jika melihat fenomena AW dan remaja alay lainnya, tentu kita patut bertanya ‘kemana selama ini pendidikan kita?’ atau pertanyaan ‘apa yang diajarkan selama ini di sekolah?’

Mungkin yang diajarkan oleh bapak-ibu guru kita sudah sesuai dengan kurikulum yang ada, sesuai target dan tujuannya. Tapi koq tetap saja ada output pendidikan yang bertolak belakang. Lalu apanya yang salah? Coba aja intropeksi dan koreksi, bisa jadi cara ngajarnya yang salah, atau dasar si anak didiknya aja yang salah, atau bahkan kurikulumnya yang salah. Tapi ternyata dari semua itu, ada hal mendasar yang menjadi pijakan. Ya, hal mendasar itu adalah mindset alias kerangka berpikir dari ketiga point tadi yang salah.

Bagi seorang guru misalnya, kalo mindset mengajarnya cuman sekedar transfer ilmu, maka bisa jadi ngajarnya ogah-ogahan, atau sak enake dewe, asal melaksanakan tugas aja, sekedar gugur kewajiban aja. Guru kayak gitu, di sekolah ngajarnya dikit, abis itu ditinggalin muridnya dikasih tugas, atau bahkan yang parah suka bolos ngajar. Semoga guru kayak gitu nggak ada ya di sekolahnya para sobat SWI.

Bagi seorang siswa, kalo mindsetnya belajar itu nggak penting, sekolah itu formalitas aja untuk mendapatkan ijazah, maka aktivitas sehari-hari di sekolah nggak jauh-jauh dari males kalo ikut pelajaran, gampangin kalo dikasih tugas, de el el.

Begitu juga kalo para pembuat kurikulum punya mindset bahwa siswa sebagai ajang uji coba alias mirip kelinci percobaan, maka yang terjadi trial and error. Ketika ganti kepemimpinan, ganti kurikulum, lebih parahnya sampe ganti buku. Kalo mindset para pengambil kebijakan menempatkan pendidikan sebagai wahana mencari pundi-pundi rupiah, maka masyarakat itu ibarat sapi perah, nggak peduli bisa bayar atau nggak, yang jelas katanya kalo pendidikan anaknya mau bagus harus bayar mahal. etc

Begitulah, kalo mindset para pelaku dan obyek pendidikan seperti itu. Beda halnya, jika para guru dan murid punya mindset, seperti yang disinyalir oleh nash-nash berikut:

Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan di dunia. Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat sesuai dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan. Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan. Allah Ta’ala berfirman:Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.(QS.Al-Mujadalah: 11)

Kedua, ilmu adalah warisan para Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Ketiga,orang yang berilmu akan mendapatkan seluruh kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.(HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat,menuntut ilmu atau mempunyai ilmu dan kemudian disebarkan adalah investasi tiada merugi. Coba perhatikan sabda Rasulullah Saw: Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat….(HR Muslim)

Kelima, menuntut Ilmu Sebagai Kewajiban. Rasulullah Saw menyampaikan hadits:Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.(HR. Ibnu Majah)

Nah, kalo para pencari ilmu (siswa) dan pemberi ilmu (guru) paham dengan nash diatas dan menjadikannya sebagai mindset pada proses belajar-mengajar, maka akan terbentuk suasana belajar yang tidak hanya sekedar transfer ilmu. Tidak hanya sekedar membuat siswa cerdas bin pinter, tapi juga memiliki perilaku yang bener. Sehingga pendikan perilaku atau pendidikan karakter yang selama ini digembar-gemborkan nggak cuman jadi slogan, tapi bener-bener terwujud di dalam karakter pengajar dan siswanya.

Maka kalo melihat fenomena remaja alay dengan segala tingkah polahnya, harusnya bikin kita sadar bahwa pendidikan kita nggak boleh hanya mencetak pelajar yang pinter aja, tapi juga harus berkarakter. Dan karakter itupun bukan sembarang karakter, tapi harus karakater Islam. Munculnya remaja alay adalah sebuah tamparan, sebuah cermin betapa gagalnya dunia pendidikan kita membentuk pendidikan berkaratker. Jika selama ini yang muncul adalah karakter sekular, tidak ada jalan terbaik kecuali hanya kepada Islam.

 

Bisakah remaja alay diubah dan berubah?

Pasti bisa dan jelas bisa diubah. Tapi tergantung. Tergantung apa? Tergantung apakah dia mau diubah dan berubah atau tidak. Karena ada kalanya seseorang itu enggan berubah atau diubah karena beberapa hal, diantaranya:

- Karena bukan prioritas hidup. Menurut mereka yang sudah ber-mindset bahwa apa yang dia lakukan selama ini nggak salah, ya mereka enjoy aja. Lagian itu bukan prioritas hidup menurut mereka. Lalu apa prioritas hidup menurut mereka? Prioritasnya adalah menggaet sebanyak mungkin kesenangan karena hidup just having fun. Jadi, hidup mereka sehari-hari tidak ada yang diburu kecuali mencari dan menikmati kesenangan. Orang model gini, biasanya akan berkata ‘gue nunggu hidayah’. Padahal yang namanya hidayah itu pilihan, saat teman-temannya ngasih atau ngajak kepada kebaikan, itulah sebenarnya jalan menuju hidayah, hanya sekali lagi, dia enggan untuk mengambilnya.

- Karena dia pernah mentok dan tidak punyai semangat lagi. Mereka yang ada di kelompok ini sebenarnya pernah mencoba untuk berubah, tapi karena malas, jumud, akhirnya berhenti dan balik lagi ke arus yang semula. Nah, kalo diminta berubah lagi, dia pasti dengan cekatan akan berkata ‘ah aku pernah kayak gitu’.

- Karena lingkungan, teman, keluarga. Ada yang memang berubah nunggu temannya berubah. Ada yang enggan berubah karena putus asa keluarganya aja nggak ada yang baik masa’ dia sendiri baik. Padahal berubah tuh ga nunggu kita baik 100%, justru kita mau baik itu akan terjadi perubahan.

 

Yuk Berubah dan Merubah!

Yuk berubah sobat. Beranilah mengambil pilihan untuk berubah, sebab pilihan hidup kita saat inilah yang nanti akan kita pertanggungjawabkan sendiri di hadapan Allah.

“Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul...”(QS Al-Isra' 15).

Di akhirat kelak, manusia tidak memiliki apapun kecuali bekal amal ibadah mereka di dunia. Dan hanya karena amal di dunia pula mereka akan dihisab oleh Allah Swt. Di akhirat nanti, manusia tidak dapat meminta bantuan dari siapapun dan apapun. Hanya amalnya yang akan menentukan nasibnya.

So, nunggu apalagi untuk berubah? Yakin besok masih bersemayam itu nyawa dalam raga kita? Yuk berubah, dan sambil terus berubah, kita harus merubah (berdakwah). Go Action![]